Antara Upaya dan Pasrah, seimbangkah?

Bagikan

Di dalam surat At-Thalaq ayat 2 dan 3 Allah memberikan jaminan kepada manusia bahwa apabila ia bertakwa, niscaya Allah akan memberikan baginya jalan keluar serta memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka. Orang yang berpasrah diri kepada Allah, Allah berjanji akan mencukupkan keperluannya.

Rasulullah pernah membacakan ayat ini kepada Abu Dzarr dan beliau berkata:” Jika semua manusia berpegang teguh pada prinsip berserah diri, hal itu akan mencukupi mereka.” Yang dimaksudkan oleh Rasul adalah, apabila manusia benar-benar bertakwa dan berpasrah diri kepada Allah, maka hal itu akan mencukupi mereka dalam kebaikan agama dan kemakmuran dunianya.

Seringkali timbul pertanyaan di dalam benak kita, apakah sebenarnya hakikat berpasrah diri ini? Pengertian sikap berserah diri adalah menggantungkan diri secara total kepada Allah dalam hal mencari kemanfaatan dan menolak kemalangan, baik yang berhubungan dengan masalah-masalah duniawi mau pun yang berkaitan dengan urusan-urusan akherat.

Meski pun sikap ini terasa tidak mudah, namun sepantasnyalah bahwa setiap muslim menyerahkan perkara hidupnya kepada-Nya. Hakikat iman terletak pada pemahaman bahwa semata-mata hanya Allah yang dapat memberikan kebaikan, mencegah keburukan, menolak bencana, dan mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia. Said bin Jubair pernah berkata,” Berpasrah diri kepada Allah itu simpul keimanan.”

Pengertian berserah diri hendaknya tidak dipahami sebagai sikap yang bertentangan dengan usaha dalam mencari faktor yang telah ditakdirkan Allah serta yang sesuai dengan apa yang disebut sunnatullah. Allah tidak hanya memerintahkan kita agar berserah diri kepadanya, karena di sisi yang lain Dia juga memerintahkan manusia agar berusaha dengan sekuat tenaga yang dimilikinya. Usaha meraih segala hasrat dan keinginan dengan segenap daya dan pikiran yang ada pada kita merupakan bagian dari bentuk ketaatan kepada-Nya. Ada pun berpasrah diri, menjadi bukti besar dan kuatnya iman kepada-Nya. Ingatlah ketika Allah mengingatkan kita dalam surat An-Nisa’ ayat 71:

khudu-khidrokum

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kamu.”

Ayat di atas memberikan kita sebuah isyarat yang jelas bahwa sebagai seorang muslim, kita tidak hanya dituntut untuk berpasrah diri saja kepada Allah, namun sesuai dengan kodrat kehidupan, kita juga diingatkan untuk selalu berusaha keras menghadapi segala tantangan dalam hidup ini. Perhatikan, betapa indahnya penyelarasan yang kemudian dilukiskan Allah antara perintah shalat yang juga menjadi bagian dari berpasrah diri, dengan perintah untuk mengerjakan sesuatu sebagai bagian dari tantangan hidup di dunia.

faidzakudiyatishalat

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kalian di muka bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.’

Jelaslah bahwa ayat ini memerintahkan kita agar kita rajin berusaha dan bekerja. Orang yang tidak berserah diri kepada Allah berarti keimanannya tidak sempurna. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa berserah diri adalah sikap Rasul, sementara bekerja merupakan sunnah beliau. Sudah barang tentu orang yang ingin mengikuti sikap Rasul tidak boleh meninggalkan sunnah beliau.

Di dalam mengerjakan amal, kita dapat melihat ada tiga macam:

Pertama adalah sikap taat yang diperintahkan Allah kepada hambanya. Amal dan ketaatan ini dapat menjadi perantara seseorang selamat dari siksa neraka dan kenikmatan menghuni surga. Amal perbuatan ini harus disertai dengan sikap yang kita tekankan di atas yaitu berserah diri serta selalu meminta tolong kepada-Nya. Kita mesti yakin bahwa tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah. Segala sesuatu yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi, sementara yang tidak dikehendaki-Nya tak akan terjadi. Dengan begitu, manusia yang tidak dapat memenuhi semua kewajibannya patut mendapat siksa baik di dunia dan di akhirat, baik dilihat dari sudut pandang syariat mau pun takdir.

Kedua adalah amal yang ditetapkan Allah sesuai dengan ketentuan kehidupan dunia dan Allah memerintahkan manusia untuk memenuhinya sendiri. Kita makan ketika kita lapar, minum ketika haus, bernaung dari panas matahari, berselimut ketika kedinginan dan sebagainya adalah sebagian dari sekian banyak yang bisa kita jadikan contoh.

Dalam contoh-contoh di atas, maka setiap orang berkewajiban mencari segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan itu. Apabila seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan ini sehingga ia menderita karena tidak berusaha sementara ia mampu mengupayakannya, maka ia telah menyiksa dirinya sendiri.

Sekali pun demikian, terkadang Allah memberikan kekuatan lebih kepada sebagian orang. Oleh karena itu, maka orang yang beramal sesuai degan kekuatan yang diberikan Allah kepadanya, maka ia pun tidak berdosa. Rasul melakukan puasa wishal yatu puasa sehari semalam penuh tanpa berbuka, tetapi beliau melarang para sahabatnya untuk berpuasa seperti itu. Beliau bersabda kepada para sahabatnya: ”saya tidak seperti kalian karena saya diberi makan dan minum.” Riwayat lain menyebutkan ucapan beliau: ”saya berteduh di bawah naungan Tuhanku. Dia memberiku makan dan minum.”

Ketiga adalah amal yang diberlakukan Allah sesuai dengan kebiasaan dalam kehidupan dunia bagi manusia secara umum. Sekali pun begitu, ada sebagian orang yang memiliki kekuatan yang melampaui kebiasaan umum ini. Ada orang-orang yang tidak berobat misalnya ketika ditimpa suatu penyakit. Mereka memiliki kekuatan yang sering kita sebut dengan supra-natural yang dengannya mereka yakin akan mampu mendeteksi dan mengatasi permasalahan hidupnya.

Manusia yang mati-matian mencari rizki karena tipisnya rasa berpasrah diri, pada umumnya disebabkan mereka terpaut pada sebab-sebab lahiriah saja. Karena itu, sekali pun banyak orang yang selalu memaksakan diri meraih sebab-sebab itu, sering kali hasilnya tetap saja sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan Allah. Tengoklah burung-burung yang terbang di pagi hari dengan perut yang kosong, dan pulang ke sangkarnya dalam keadaan kenyang. Bukankah Allah yang menyediakan rizki bagi burung-burung ini? Adakalanya rizki manusia terhalang oleh dosa-dosa yang diperbuatnya. Dalam hadits riwayat Tsauban, Rasul bersabda: ”Rizki seorang hamba terhalang karena dosa yang diperbuatnya.”

Dalam sebuah hadits riwayat Jabir, Rasulullah pernah mengingatkan: “Setiap jiwa tidak akan mati sampai rizkinya disempurnakan. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah rizkimu dengan jalan yang baik. Ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” Khalifah umar suatu kali berkata,” Ada tirai penutup antara seseorang dan rizkinya. Jika ia menerima dan rida terhadap jiwanya, Allah akan mendatangkan rizkinya.”

Manusia yang berusaha mendobrak dan menerobos tirai ini, tidak akan sanggup melampaui batas rizki yang telah ditetapkan-Nya. Sebagian ulama salaf malah mengatakan, ”Berpasrah dirilah kepada Allah, maka rizkimu akan mengalir tanpa harus kelelahan.” Intinya, orang yang memiliki sikap berpasrah diri yang kuat kepada Allah, akan memperoleh jaminan rizki dari-Nya, sehingga andai kata ia harus mengharungi padang pasir tanpa bekal sekali pun, ia akan mampu melakukannya.

Tentu saja tindakan seperti yang tergambar di atas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki sikap berserah diri yang tinggi, bukan oleh mereka yang masih lemah. Mari kita kenang dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim yang meninggalkan istri dan anaknya di sebuah bukit yang tandus.

Tatkala itu, Ibrahim hanya meninggalkan bejana berisi korma dan tempayan berisi air untuk keduanya. Ketika Siti Hajar hendak mengikuti Nabi Ibrahim, ia tidak diperkenankan. Siti hajar pun kemudian berkata,” Kepada siapa kamu hendak menitipkan kami?” Ibrahim menjawab, ”Kepada Allah.” Mendengar itu, Siti Hajar berkata, ”Kalau begitu, saya rela ditinggalkan.”

Ibrahim kemudian menunaikan perintah Allah dan wahyu yang diturunkan kepadanya. Dengan demikian, Allah memberikan ilham kebenaran ke dalam hati para wali-Nya bahwa apa yang mereka lakukan itu benar dan mereka mempercayai kebenaran itu.

Bedakanlah dengan orang yang menelantarkan diri dengan tidak bekerja dengan baik dan tidak rela atas porsi dan bagian rizkinya yang tidak banyak. Orang seperti ini adalah orang-orang lemah dan mudah berputus asa. Perhatikan sabda Rasul sehubungan dengan hal ini, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Dalam setiap kebaikan, cintakanlah dirimu terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika kamu dicoba dengan sesuatu, jangan pernah mengatakan ‘andai saja saya melakukan ini dan itu, maka hasilnya pasti ini dan itu.’ Tetapi katakanlah ‘Allah telah menakdirkannya dan Allah bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.’ Dengan demikian ia tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk menggodanya dengan perkataan yang berandai-andai itu.”

Demikianlah sekilas pemahaman tentang arti sikap berpasrah diri dan kaitannya dengan upaya pencarian rizki manusia di dalam hidupnya. Sebagai penutup tulisan ini saya ingin mengutip firman Allah yang tercantum dalam surat Al-Ankabut ayat 60:

wakaayinmindabah

“Berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allahlah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu….!”

Husein Shahab*

Bagikan