Balada Dua Pengemis Buta

Bagikan

Ibu Ja’far Ash-Shadiq terkenal sebagai seorang dermawati. Namanya Ummu Farwah binti Qasim. Beliau adalah cicit Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu kali beliau melintasi dua pengemis buta yang duduk di pinggir jalan. Seorang dari mereka terdengar berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki kemurahan-Mu yang luas.” Yang seorang lagi terdengar berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki dari kemurahan Ummu Ja’far.”

Pengemis pertama sudah berkeluarga; punya anak dan istri. Sedang yang kedua masih bujangan. Kedua pengemis itu duduk di jalanan yang biasa dilewati oleh Ummu Farwah.

Ummu Farwah lalu mengutus seseorang untuk memberi pengemis pertama dua dirham. Sedang yang kedua, juga melalui utusannya, diberinya dua kerat roti plus ayam panggang yang di perutnya dimasukkan 10 dinar. Baik utusan maupun si pengemis tidak diberitahunya mengenai keberadaan uang dinar tersebut.

Pengemis kedua, yang masih bujang dan mengharapkan rezeki dari kemurahan Ummu Farwah itu, tidak menyadari adanya uang dalam perut ayam panggang yang disodorkan padanya. Dia lebih suka uang dirham. Karena itu, dia menjual ayam panggang tersebut kepada temannya. “Ambil ayam dan dua kerat roti ini, berikan padaku dua dirham tadi,” katanya. Si teman, yang polos dan lugu, menerimanya.

Begilah berlangsung terus tiap hari hingga waktu sebulan berlalu. Kemudian Ummu Farwah mengutus orang-orang untuk mendatangi pengemis buta kedua (yang memohon diberi Allah dari kemurahan beliau). “Tanyakan padanya, apakah pemberian kami mencukupi kebutuhannya?”

Ketika utusan-utusan itu datang, si pengemis bertanya balik, “Tanyakan pada beliau, apa yang telah diberikan padaku?”

Ummu Farwah menjawab melalui utusan-utusannya, “Tiga ratus dinar.” Si pengemis menjawab, “Tidak, demi Allah. Beliau hanya mengirimi aku setiap harinya satu ekor ayam panggang dan dua kerat roti. Aku selalu menjualnya kepada temanku dua dirham.”

Ummu Farwah berkata kepada utusan-utusannya, “Jadi, benarlah lelaki pengemis yang meminta diberi dari kemurahan Allah. Karena meminta langsung dari kemurahan Allah, maka Dia memberinya kecukupan dari jalan yang tak tersangka-sangka, dan tak dia harap-harap. Adapun lelaki pengemis satunya lagi, dia meminta dari kemurahan kami sehingga Allah merintangi jalan atau jalur yang dia harap dapat memberinya kecukupan. Dengan begitu, Dia memberi tahu kita bahwa kefakiran dan kekayaan itu berasal dari Allah, dan bahwa apapun yang ditakdirkan-Nya pasti terjadi.”

Hamid Ahmad

Bagikan