Geliat Kebangkitan NII

Bagikan

Geliat Kebangkitan NII

Jangan mudah terbius oleh kata jihad atau syahid! Bila ada orang dengan mudahnya mengucapkan kata jihad atau syahid, maka sebaiknya jauhi dia! Kalau bukan teroris, maka bisa jadi dia adalah penipu berkedok teroris yang siap mencuci otak anda. Islam bukanlah agama penabur teror, akan tetapi agama yang menyemaikan benih-benih kasih sayang ke seluruh persada alam. Jihad dan syahid adalah dua kalimat sakti yang layak digelorakan oleh seorang imam berdasarkan arahan majelis ulama, bukan jargon-jargon kosong yang dengan seenaknya bisa disuarakan orang-orang tak berilmu.

Kata jihad dan syahid mulai menyusup di kampus-kampus perguruan tinggi di tanah air ini sejak satu atau dua dekade yang lalu, dibumbui dengan kata hijrah. Hijrah secara harfiah berarti perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Adalah Negara Islam Indonesia (NII) yang gencar menyebarkan kata hijrah itu di kampus-kampus. Mereka mengajak para mahasiswa untuk berhijrah dari negara ‘kafir’ (NKRI) menuju negara Islam (NII). Sasaran “tembak” mereka adalah para mahasiswa yang tidak memiliki bekal ilmu agama yang cukup dan berduit. Mereka memilih yang awam ilmu agama karena akan mudah mereka jinakkan dengan dalil-dalil bikinan mereka dan memilih anak orang kaya agar bisa menarik fulus demi menunjang operasi mereka.

Demam NII di kampus-kampus perguruan tinggi sebetulnya sudah mewabah semenjak sepuluh tahun silam, khususnya di Jakarta, Bandung dan Yogya. Mahasiswa atau mahasiswi yang tercebur ke dalam kelompok ini lumayan banyak jumlahnya. Mereka aktif mengikuti pengajian eksklusif NII dan menggalang dana untuk menunjang kehidupan pemerintahan NII.

Seperti halnya negara konvensional, Negara Islam Indonesia (NII) memiliki struktur pemerintahan lengkap mulai dari presiden, menteri, bupati, bahkan sampai RT. “Presiden itu… gajinya Rp10 juta dan menteri gajinya Rp2 juta,” terang Imam Supriyanto, mantan Menteri Peningkatan Produksi Negara Islam Indonesia pada sebuah media besar tanah air Sabtu 30/04/2011 lalu. Dana-dana tersebut diperoleh dari sumbangan anggota di daerah-daerah. Seperti desa, lalu naik ke kelurahan, lalu kecamatan, dan kabupaten. “Tiap pribadi harus membayar setoran wajib. Misalnya seseorang diharuskan menyetor 1 juta sedangkan dia hanya memiliki 100 ribu, maka sisanya itu harus nyari-nyari bagaimana pun caranya,” imbuh Imam. “Mencuri juga boleh karena selain warga NII hartanya adalah halal.”

Modus pencarian dana yang dilakukan para mahasiswa anggota NII memang banyak ragamnya, seperti menggunakan semua uang saku, menjual barang-barang berharga, menipu orang tua dengan berjuta alasan, menarik sumbangan di SPBU-SPBU, bahkan ada yang menjadi penyalur pembantu rumah-tangga lalu menyuruh anak buahnya menguras harta pemilik rumah. Dana itu kemudian disetorkan kepada semacam koordinator wilayah yang aktif berkeliling menarik dana anggota. Dalam seminggu NII bisa meraup uang ratusan juta dari anggota seluruh wilayah. Belakangan diketahui bahwa sebagian dana itu disimpan di Bank Century dengan rekening atas nama pemimpin mereka, Abu Maarik alias Panji Gumilang. Seiring bergulirnya skandal Bank Century, dana milik NII itu kini belum diketahui kejelasan nasibnya. Sebagian dana yang lain dipakai untuk spekulasi bisnis oleh Panji Gumilang dan ternyata gagal. Barangkali karena cara mendapatkannya tidak benar, maka uang kas NII itu jadinya tidak berkah dan cepat pupus.

Semen

Negara Islam Indonesia diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 7 Agustus tahun 1949 sebagai suatu gerakan politik yang berhaluan Islam. Kartosuwiryo waktu itu bertekad mendirikan negara Islam karena kecewa dengan lunaknya sikap pemerintah Indonesia terhadap Belanda dalam perjanjian Roem-Royen. Banyak yang menyangsikan I’tikad Kartosuwiryo mendirikan Negara Islam ketika itu lantaran dirinya bukanlah sosok yang pandai agama. Apalagi mengingat latar-belakangnya sebagai anak mantri candu yang berpendidikan Belanda, dan hanya belajar Islam secara otodidak. Para ahli sejarah menilai pengetahuan agama Sukarno masih lebih kuat dari Kartosuwiryo. Tersebab itulah Kartosuwiryo tidak pernah mendapatkan dukungan dari masyarakat luas. Gerakan NII akhirnya bisa ditumpas oleh Sukarno. Kartosuwiryo sendiri tertangkap dan ditembak mati pada 5 September 1962 di Teluk Jakarta.

Pasca meninggalnya Kartosuwiryo, NII tak langsung mati. Sejak tahun 1974 kelompok ini terus melakukan gerakan bawah tanah di bawah kendali Abu Daud Beureuh. Lalu pada tahun 1975 Abu Daud ditangkap dan NII mengalami kekosongan pemimpin. Belakangan ditengarai pucuk pimpinan NII dipegang oleh Abu Karim Hasan . Dari sini mulai tumbuh benih NII sebagai suatu ajaran yang menyimpang. Abu Karim Hasan meninggal pada tahun 1992 dan estafet kepemimpinan diambil alih oleh Abu Toto alias Abu Maarik alias Panji Gumilang. Pada tahap ini semakin kentara kesesatan ajaran-ajaran NII.

“Ibadah Haji dalam NII itu adalah perkumpulan NII dari seluruh Indonesia. Semua petinggi kumpul di Indramayu,” kata Ken Setiawan, pendiri NII Crisis Center yang juga mantan anggota NII sejak tahun 2000 sampai 2002. Puncak ibadah haji dalam Islam jatuh pada 9 Zulhijah. Dalam komunitas NII, puncak haji jatuh setiap tanggal 1 Muharram. “Kalau di NII, tawaf cukup dilakukan dengan berkeliling pondok pesantren Al-Zaytun yang luasnya 1.200 hektar. Saat naik haji di NII, kami ditunjukkan kebanggaan Al Zaytun dengan kata-kata, inilah Islam,” lanjut Ken.

Lebih aneh lagi saat proses lontar atau lempar jumrah. Menurut Islam, melempar jumroh dilakukan dengan melempar tujuh buah batu-batu kecil atau kerikil ke arah tiga tiang di kota Mina, Arab Saudi.

“Di NII, melempar jumrah itu dilakukan dengan tujuh buah sak semen. Menurut petinggi NII, kalau pakai kerikil, kapan Islam bisa maju?” kata Ken. Tujuh buah sak semen itu tidak serta-merta dilempar di Al Zaytun, tetapi diwujudkan dalam bentuk uang. Berapa harga total dari tujuh sak semen itu disetorkan kepada petinggi NII . Dari jumlah tujuh sak semen itu mengalir dana ratusan juta. Bahkan ada yang menyumbang lebih dari harga tujuh sak semen.

Di NII ada pula istilah penebusan dosa. Setelah berbuat dosa, seorang anggota NII dianjurkan memberikan pengakuan kepada seorang pembimbing kemudian memberikan sejumlah uang. Dengan begitu, dosa si pelaku telah tertebus dan terampuni. Ritual ini mirip ajaran umat kristiani di gereja-gereja. Dalam hal berkurban, mereka memiliki pengertian sendiri. Berkurban menurut mereka tidak harus menggunakan binatang ternak semacam unta, sapi atau kambing. Menyembelih hewan hanyalah sekedar lambang dari pengorbanan. Mereka juga memiliki pendapat tersendiri mengenai zakat fitrah. Dalam pandangan mereka, Zakat fitrah tidak lagi dihargai dengan 3,5 liter beras. Menurut mereka, dosa setahun sudah tidak wajar lagi dibersihkan dengan 3,5 liter beras. Sangat ironis jika hanya dengan 3,5 liter beras umat Islam bercita-cita mencapai kesejahteraan.

Penyimpangan NII juga menyentuh persoalan akidah. Panji Gumilang menyusun sistematika tauhid dengan membaginya ke dalam 3 substansi yang namanya mirip konsep Tauhid Wahabi, yakni Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah, dan Tauhid Uluhiyah. Konsep ini mereka sebut Mabadi Tsalasah. Mereka mengumpamakan Tauhid Rububiyah dengan akar kayu, Mulkiyyah adalah batang kayu, dan Uluhiyyah sebagai buahnya. Selain itu mereka juga menafsirkan Rububiyah dengan undang-undang, Mulkiyyah sebagai negara, dan Uluhiyah sebagai umatnya. Penyimpangan lainnya adalah keyakinan mereka bahwa kerasulan dan kenabian itu tidak akan berakhir selama masih ada orang yang menyampaikan dakwah Islam kepada manusia. Mereka berkesimpulan bahwa setiap orang yang menyampaikan dakwah Islam pada hakekatnya adalah rasulullah.

Ajaran mereka yang dinilai ekstrem adalah takfir atau mengkafirkan orang di luar NII. Sikap takfir inilah yang menyebabkan kelompok tersebut membenarkan aksi-aksi perampasan harta orang-orang di luar kelompok mereka. Mereka menganggap harta dan jiwa orang kafir halal. Tak heran berbagai praktek kriminal pun mereka lakukan. Selain semua ini, masih banyak lagi praktek penyimpangan kelompok ini.

Ideal

Sesungguhnya konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia tidaklah bertentangan dengan syariat. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Qadhayal Fiqih berfatwa, “Tidak disyaratkan nidham hukum Islam berdiri atas asaz khilafah sebagaimana pendapat Imam Tiftazani yang mengatakan ‘Kepemimpinan umum dalam urusan agama dan duniawi merupakan khilafah dari Nabi Muhammad SAW.’ atau sebagaimana dikatakan oleh Imam Mawardi, ‘Kepresidenan merupakan khilafah kenabian dalam menjaga urusan agama dan politik duniawi.’ Negara boleh saja tidak berdasarkan asaz khilafah seperti negara republik tapi dengan syarat harus memperhatikan urusan agama dan dunia, karena yang paling penting dalam khilafah adalah keterikatan pada nidhom syuro atau selalu bermusyawarah seperti disebutkan dalam Al-Quran.”

Dr.Hamid Sulthon berpendapat sama. Dalam kitabnya, Ahkamul Qanun Dauli Fis Syari’atil Islamiyah ia mengemukakan, “Perlu diketahui bahwa Islam tidak pernah mengatur hukum Islam dalam bentuk tertentu dan ini sejalan dengan kaidah syuro.” Pemerintahan Indonesia sebetulnya sejalan dengan kaidah ini karena terdapat majelis syuro berupa DPR dan MPR. Dalam kitab Abqoriyatul Islam Fi Usulil Hukmi halaman 97, Dr. Munir Al-azlani, sang penulis, mencatat “Majlisnya Rasulullah SAW terdiri dari 11 orang sahabat, yakni Hamzah, Ja’far, Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibn Mas’ud, Ammar, Hudzaifah, Abu Dzar, Miqdad bin Aswad dan Bilal.

Majelis syuro itu sendiri harus terikat dengan aturah Allah SWT yang bersumber dari Al-Qur’an, hadist, ijmak dan qiyas.”

Walhasil, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bentuk yang paling ideal bagi bangsa Indonesia yang majemuk ini. Wacana Negara Islam Indonesia yang mengemuka belakangan ini hanyalah akal-akalan orang-orang yang ingin memanfaatkan atribut Islam untuk ambisi pribadi mereka. Mereka adalah musuh dalam selimut yang suatu saat bisa merusak kedamaian negeri ini. Pemerintah harus bertindak tegas terhadap kelompok yang hendak melakukan perbuatan makar itu. Ulama mestinya lebih pandai memasuki dunia kampus demi menyelamatkan para intelektual muda dari hasutan aliran-aliran sesat semacam ini. Tak ada kata terlambat untuk memberangus NII yang geliatnya sudah mulai meresahkan itu…..!CN***

Bagikan