Kemuliaan Orang yang Berilmu

Bagikan

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu. Kebutuhan akan ilmu adalah sebuah hal yang primer dan tak dapat ditunda sebagaimana halnya makanan, pakaian dan tempat tinggal. Rasulullah pun mewajibkan setiap muslim dan muslimah untuk terus berupaya menuntut ilmu hingga ajal datang menjemput. Pada kenyataannya, kehidupan manusia ini merupakan proses belajar terus-menerus tanpa henti. Justru semakin seseorang banyak belajar semakin pula ia merasa bodoh. Ilmu adalah cahaya kehidupan, sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Dalam Al Quran Allah menegaskan perbedaan antara orang yang berilmu  dan tidak.

keutamaanilmu

 

 

 

 

Artinya:(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Ayat yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad juga berkaitan dengan ilmu. Manusia diperintahkan untuk membaca, membaca semua yang tertulis di alam sebagai karunia Allah SWT. Bahkan Allah mengajarkan sendiri kepada manusia atas apa-apa yang tidak diketahuinya melalui perantaraan Al Quran dan karunia akal. Manusia diciptakan berbeda dengan hewan. Perbedaan utamanya adalah pada akal, kemampuan berfikir dan pemahamannya. Seseorang yang tidak berilmu hampir tak ada bedanya dengan hewan. Manusia dituntut untuk menggunakan akalnya, mengeksplorasi ilmunya sehingga membawa manfaat bagi dirinya dan orang lain. Keutamaan manusia atas makhluk lain dapat kita lihat dalam perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as sebagai wujud kemuliaan manusia sebagai makhluk berakal.

Ilmu juga merupakan simbol kejayaan suatu bangsa. Lihatlah bagaimana manusia begitu mengagung-agungkan bangsa yang memiliki kemajuan ilmu dan teknologi sehingga dijadikan kiblat dan tujuan menuntut ilmu. Ini terjadi di kalangan kaum muslimin sendiri, dimana mereka merasa hebat ketika mampu melanjutkan pendidikan ke Amerika, Jerman, atau Jepang. Mereka menganggap yang belajar di pesantren dan sekolah agama merupakan orang-orang terbelakang dan tidak mampu mengikuti perkembangan zaman. Terlebih tuntutan duniawi menuntut mereka untuk mengejar prestise dan materi. Pemikiran-pemikiran ini sedikit demi sedikit perlu diluruskan.

Mempelajari ilmu dunia yang bermanfaat adalah fardu kifayah. Artinya, mempelajari ilmu ekonomi, kedokteran, hukum dan tatanegara, ilmu komputer dan ilmu bermanfaat lainnya bukan kewajiban setiap individu. Bila dalam sekelompok manusia sudah ada yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban manusia  yang lain. Namun alangkah hebatnya manusia yang dapat memiliki kedua bidang ilmu, sebagai ilmuan muslim yang mempelajari ilmu agama dan ilmu alam sekaligus. Sejarah tak mampu mengingkari kehebatan cendekiawan-cendekiawan muslim dalam science dan ilmu sosial. Aljabar, algoritma, kedokteran, ilmu sosial, ilmu optik dan fisika adalah beberapa ilmu yang ditemukan oleh Al khawarizmi, Ibnu sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Al-Haitsam dan Abdussalam. Tengoklah juga ilmuan-ilmuan masa kini seperti Harun Yahya yang mampu mengungkapkan korelasi antara science dan Al Quran dengan cara yang mengagumkan.

Dalam bukunya Bagaimana Seorang Muslim Berfikir, Harun Yahya menekankan akan pentingnya manusia berfikir dan menggunakan akalnya untuk melihat kebesaran Allah. Salah satu kalimat dalam buku ini berbunyi : Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak.

Menuntut ilmu adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Ilmu yang bermanfaat itu bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran dan kekuasaan Allah, seperti ilmu alam yang membuat kita terkagum-kagum akan ciptaan Allah yang luar biasa dan sempurna. Sebagai contoh, bagaimana seekor unta yang hidup di cuaca paling panas di padang pasir. Ia dapat bertahan hidup beberapa hari tanpa air. Unta menyimpan air minumnya di dalam sebuah wadah di tubuhnya untuk tempo yang panjang dan ia menghilangkan dahaganya dengan air yang dibawanya itu. Siapa yang mempunyai ide untuk memberi wadah air dalam tubuh unta kecuali Allah SWT?
Renungkanlah pula tentang jantung yang ada dalam tubuh kita. Jantung terus menerus berdenyut sebanyak 72 kali dalam satu menit. Setiap kali jantung berdenyut, ia memompa darah ke seluruh tubuh kita. Setiap sel dalam tubuh kita menerima oksigen dan makanan yang diperlukan dari darah. Jantung kita memompa 43.000 liter darah setiap hari. Jika kita berfikir logis, bagaimana benda yang hanya sebesar genggaman tangan manusia ini dapat bekerja demikian berat. Dengan mempelajari ilmu-ilmu inilah kita semakin mengetahui kekuasaan Allah dan mengakui ke Maha besaran-Nya.

Namun kita tak dapat mengingkari bahwa mempelajari ilmu agama adalah fardhu ‘ain. Setiap muslim wajib mempelajarinya. Amal ibadah yang kita lakukan akan menjadi sia-sia tanpa adanya dasar ilmu agama yang memadai. Ilmu dien adalah warisan para nabi, warisan yang lebih mulia dan berharga dari segala warisan para nabi. Rasulullah SAW bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى النُّجُوْمِ. اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، وَاْلأَنْبِيَاءُ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَاًرا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ. الترمذي
“Keutamaan seorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar mau pun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi).

Banyak ulama yang dapat kita jadikan teladan akan kegigihannya mencari ilmu. Para ulama terdahulu tentunya mencari ilmu dengan penuh perjuangan. Tak jarang mereka harus mengembara ke tempat yang cukup jauh untuk mendapatkan ilmu, bahkan harus berjalan menyusuri tanah pasir yang panas dan terik matahari yang menyengat karena keterbatasan transportasi. Hal itu tak mematahkan semangat mereka, bahkan mereka sanggup melakukan apa pun agar memperoleh ilmu dan mendakwahkan ilmu yang mereka miliki. Berkat kegigihan para ulama terdahulu dalam mencari dan medakwahkan ilmulah, maka tak heran ilmu-ilmu yang mereka miliki menjadi barokah dan terus tersebar, dan nama mereka terus disebut-sebut orang sekali pun mereka telah tiada. Bandingkan dengan saat ini, dimana ilmu dapat diakses dengan lebih mudah melalui majelis-majelis ta’lim di sekitar kita, internet, televisi, radio, buku, majalah dan media lainnya. Namun justru kita lah yang seolah enggan memperkaya diri dengan ilmu.
Salah satu ulama kebanggaan dunia Islam adalah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Beliau adalah salah satu ulama yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan ilmu Islam. Karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap ilmu, beliau mengembara dalam menuntut ilmu ini sehingga beliau mendapatkan ijazah keilmuan dari 200 orang ulama atau lebih. Padahal, beliau telah belajar kepada ayahandanya, Sayyid Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz Al-Maliki Al-Hasani. Namun karena beliau adalah seorang yang haus akan ilmu, beliau pun mengembara ke jazirah Arab, Afrika, India dan Pakistan untuk mendapatkan keluasan dan kesempurnaan ilmu. Beliau mendapatkan gelar kehormatan “ Syaikh” karena banyaknya sanad dan ijazah baik berupa ilmu ushul mau pun ilmu furu’, juga gelar sebagai muhaddits karena penguasaan dan pemahaman serta hafalan beliau tentang matan hadits, sanad dan perawinya hingga sampai pada Rasulullah. Berkat kecerdasannya beliau menghafal Al Quran diusia 7 tahun dan memperoleh gelar Phd dari Universitas Al Azhar Cairo di usia 25 tahun.

Sayyid Muhammad Al-Maliki produktif menulis ratusan buku  dengan berbagai topik yang juga menjadi rujukan utama di institusi-institusi Islam. Murid-muridnya banyak tersebar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di sinilah letak keutamaan orang berilmu. Meski pun ia telah tiada, ilmunya terus menyebar dan diteruskan oleh muridnya, sementara pahalanya terus mengalir kepada sang guru. Dikatakan banyak orang bahwa selain menguasai ilmu agama, beliau juga ahli dalam bidang ketata negaraan dan sosial kemasyarakatan. Beliau berpendapat bahwa umat Islam perlu menggunakan segala upaya untuk meningkatkan taraf hidup, baik dari segi rohani, kemasyarakatan, mau pun ekonomi. Umat Islam harus bergandengan tangan, bahu membahu memerangi kemiskinan dan kebodohan serta segala sesuatu yang merusak moral, kejahatan dan kemaksiatan. Kelebihan beliau lainnya adalah, meski pun manhaj beliau ( Sunni) berbeda dengan manhaj yang dianut oleh pemerintah Arab Saudi (Wahabi) dan sempat mengalami pertentangan, namun beliau tetap dianggap sebagai ulama yang handal dan menjadi kebanggaan kaum muslimin. Wafat beliau dianggap sebagai kerugian besar bagi kaum muslimin. Hal ini terjadi berkat cara dakwah beliau yang santun, jauh dari sifat keras, dan keilmuan beliau yang tinggi, serta kesediaan untuk berdiskusi dengan ulama lain yang menentang pemikiran-pemikirannya.

Maka tak heranlah ketika Rasulullah mengibaratkan orang berilmu laksana lembah yang bisa menampung air yang bermanfaat terhadap alam sekitar, bagaikan hujan yang menimpa tanah, yang mampu menahan air. Ia mampu memberikan manfaat kepada manusia baik untuk minum, makan dan bercocok tanam. Orang yang berilmu  merupakan cahaya yang menerangi kegelapan di sekitarnya. Bahkan hingga ketiadaannya pun  ia tetap menjadi penerang karena ilmunya yang penuh barokah itu……! Wallahua’lam bishawab.

Fatimah Azzahrah Alattas SE*

Bagikan