Menadah Berkah Hadrah Basaudan

Bagikan

Semenjak Islam masuk ke persada Nusantara, berbagai tradisi kebudayaan bernafaskan Islam bermunculan. Kita mengenal tradisi maulid yang semarak di Rabiul Awal, bulan kelahiran Baginda Rasul SAW. Dalam tradisi ini, kaum muslimin membacakan sejarah Baginda Nabi SAW dengan diiringi shalawat dan kasidah-kasidah pujian. Maulid sendiri ada banyak macamnya. Ada Maulid Diba’, Maulid Barzanji, Maulid Habsyi dan lain sebagainya. Di samping maulid, ada pula tradisi tahlilan, istighasah, manakiban, ratiban, burdah serta yang lain lagi. Semua aktivitas itu lahir bukan sebagai akulturasi Islam dengan budaya Jawa, melainkan murni taqarrub (pendekatan diri) yang dituntunkan ulama kepada umat Islam berdasarkan dalil-dalil hukmiyah yang akurat.

Hadrah Basaudan barangkali merupakan fenomena baru di tengah kaum muslimin Nusantara. Tradisi ini lahir di Hadramaut, Yaman Selatan sekitar dua abad silam. Seperti halnya maulid atau burdah, Hadrah Basaudan diisi dengan pembacaan kasidah-kasidah yang berintikan sanjungan kepada nabi SAW, doa dan tawasul kepada orang-orang sholeh. Kalau burdah lazimnya dibaca pada hari atau malam Jumat, maka Hadrah Basaudan dikhususkan pada setiap hari Selasa, boleh pagi atau sore.

Di Tarim, Hadramaut, majelis ini digelar di dua tempat, yakni Rubat Tarim dan kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur. Pembacaan Hadrah Basaudan di Rubat Tarim dilakukan oleh para santri rubat pada Selasa seusai shalat shubuh. Sementara itu, di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, pembacaan Hadrah Basaudan bersuasana lebih semarak. Para tokoh Tarim senantiasa menyempatkan diri menghadiri Hadrah Basaudan di tempat ini pada Selasa sore. Barangkali hal itu bisa dimaklumi sebab Habib Abdurrahman memberikan andil dalam penyusunan Hadrah Basaudan.

Belakangan majelis Hadrah Basaudan menyebar hingga ke sejumlah Negara di Timur Tengah dan Afrika. Sementara di Indonesia, majelis ini juga mulai bertumbuhan di beberapa kota seperti Jakarta, Gresik, Surabaya, Tuban, Pasuruan, Malang, Lumajang, Jember dan lain-lain. Majelis ini dibawa oleh ulama yang rata-rata berdarah Hadrami.

Di Malang, Hadrah Basaudan dipelopori oleh Majelis Riyadus Shalihin asuhan Habib Muhammad Bagir bin Sholeh Mauladawilah. Tiap Selasa pagi, mulai pukul 05.30-07.00, Majelis Riyadus Shalihin yang berlokasi di Kapten Pierre Tendean gang 3 Malang ini ramai dihadiri ratusan peserta Hadrah Basaudan yang mayoritas berpakaian putih-putih. Mereka selalu khidmat memanjatkan doa bersama, dibimbing Habib Muhammad Bagir. Jamaah yang tidak mendapat tempat duduk di ruang majelis taklim yang berukuran 20 x 10 meter itu rela duduk di atas kardus di sepanjang gang yang sempit.

Di Pasuruan tak kalah semaraknya. Hadrah Basaudan di kota ini diadakan Selasa sore di Turbah Habib Alwi bin Segaf as-Segaf dipimpin langsung oleh Habib Taufik bin Abdulkadir as-Segaf. Majelis yang satu ini selalu dihadiri kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seribu orang lebih. Uniknya, seusai pembacaan hadrah, Habib Taufik senantiasa menyambung majelis dengan pembacaan kalam salaf. Di Gresik, majelis Hadrah Basaudan dilangsungkan di kediaman Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf pada hari Selasa usai shalat ashar. Majelis di kota ini dipimpin oleh Ustad Abdulkadir bin Ali as-Segaf, salah seorang cucu Habib Abu Bakar.

Kota Lumajang juga tak ketinggalan. Ustad Umar bin Sholeh al-Hamid menghelat Hadrah Basaudan setiap Selasa pagi di rumahnya yang terletak di kawasan Kampung Arab. Begitu juga di kota Tuban. Hadrah Basaudan di kota tua ini dipelopori oleh Ustad Alwi bin Ahmad as-Segaf dan diadakan di pesantrennya, Darul Ihsan. Ada pun di Surabaya, kegiatan majelis ini berlangsung setiap Selasa sore di kediaman Habib Abdulkadir bin Hud as-Segaf di Ketapang Besar. Untuk sementara ini, Hadrah Basaudan di Surabaya masih diperuntukkan hanya bagi kaum wanita. Sementara itu, Hadrah Basaudan di kawasan Bukit Biru, Tenggarong, barangkali merupakan majelis Hadrah Basaudan pertama yang dilakukan secara rutin di bumi Kalimantan. Majelis ini dilaksanakan tiap Selasa sore di Pesantren Al-Munawwarah.

“Mulanya, Hadrah Basaudan sebetulnya ditulis oleh Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr,” demikian jelas Habib Muhammad bin Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafiz. Ulama muda asal Hadramaut ini menyampaikan hal tersebut tatkala menghadiri majelis Hadrah Basaudan di Turbah Habib Alwi bin Segaf as-Segaf di Kebonagung Pasuruan pada 14 Desember 2010 silam. “Kemudian penulisan hadrah itu diteruskan oleh Syekh Abdullah bin Ahmad Basaudan, salah seorang murid Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr. Selang beberapa lama, hadrah itu dilengkapi oleh Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor dan pada akhirnya disempurnakan oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, penulis kitab Bughyatul Mustarsyidin yang tersohor itu.”

Belakangan hadrah itu lebih dikenal sebagai Hadrah Basaudan, diambil dari nama Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan, ulama yang paling disegani dua abad lalu. Ia adalah salah satu dari sedikit ulama yang telah sampai pada puncak pengetahuan dan ditahbiskan sebagai “Hujjatul Islam.” “Syeikh Abdullah bin Ahmad Basaudan bukanlah ahlul bait, tapi dia diposisikan sebagaimana Salman di tengah ahlul bait,” lanjut Habib Abdurrahman. Dari kitab tarikh kita tahu, Salman adalah seorang lelaki Persia yang masuk Islam dan kemudian menjadi sahabat Baginda Rasul SAW. Ia begitu disenangi oleh Baginda Rasul SAW, hingga beliau SAW bersabda, “Salman termasuk keluargaku.” Syekh Abdullah Basaudan mendapat gelar Salman lantaran kedekatan dan kecintaannya kepada ahlul bait Nabi SAW. Ia meninggal pada tahun 1266 Hijriyah.

Mengenai arti “hadrah”, Habib Muhammad bin Ali Masyhur memaparkan: “Hadrah berarti hadir. Ketika hati kita hadir menyebut asma Allah SWT, maka berarti kita telah memasuki Hadratillah. Kalau hati kita tidak hadir, maka kita takkan bisa memasukinya. Sesungguhnya orang-orang yang bisa menghadiri Hadrah Basaudan telah mendapatkan undangan khusus dari Allah SWT. Allah SWT telah mengundang mereka dengan menggerakkan hati mereka untuk menikmati jamuan-Nya. Kita tentunya akan mengundang orang-orang dekat kita secara khusus bila hendak mengadakan jamuan istimewa.”

“Hadrah Basaudan kini dibaca di mana-mana, dari Timur Tengah sampai Benua Afrika. Mereka semua telah merasakan keberkahan dari membaca hadrah ini. Di Tarim, Hadrah Basaudan dibaca di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dan sekarang dipimpin oleh abah saya, Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafiz. Alhamdulillah kita sekarang tengah membaca Hadrah Basaudan. Hadrah yang Insya Allah dihadiri oleh berjuta malaikat. Andai semua orang tahu bahwa hadrah ini diikuti oleh berjuta malaikat, tentu mereka akan berjejal-jejal di tempat ini sekarang. Tetapi kiranya Allah SWT hanya mengundang orang-orang yang Ia kehendaki saja.”

Bid’ah

Begitulah Habib Muhammad menerangkan keutamaan majelis Hadrah Basaudan di tengah sekitar seribu hadirin yang menyesaki Turbah Habib Alwi as-Segaf. Kemudian, menyinggung pelaksanaan Hadrah Basaudan di makam salah seorang wali di kota Pasuruan ini, Habib Muhammad berkisah, “Dulu ada seorang wali yang bermimpi bertemu Baginda Nabi SAW. Dari pertemuan itu, si wali mendapatkan tiga buah hadits. Hadits yang pertama menyebutkan bahwa duduk sejenak di hadapan wali Allah yang masih hidup atau sudah wafat, sekali pun waktunya sesingkat orang memerah susu atau mengupas sebutir telur, lebih utama dari pada beribadah sampai anggota tubuh terpotong-potong. Hadits yang kedua menerangkan bahwa semenjak aroma kopi terasa di lidah seseorang (orang yang minum kopi demi menambah kekuatan ibadah di malam hari, red), maka para malaikat memohonkan ampunan kepada orang itu. Hadits yang ketiga mengatakan bahwa orang yang membawa tasbih (dengan niat untuk digunakan berzikir, red) akan selalu mendapatkan catatan pahala selama tasbih itu ada di dalam genggamannya.”

Hadits di atas memang tak pernah diriwayatkan oleh para perawi hadits karena didapatkan lewat mimpi. Sekali pun demikian, sebuah hadits Shahih Imam Bukhori menegaskan ucapan Rasul: “Orang yang melihatku dalam mimpi, pada hakikatnya telah melihatku dalam nyata sebab setan takkan pernah menyerupai aku, sekali pun dalam mimpi.”

Hadrah Basaudan diakhiri dengan pembacaan Al-Fatihah yang ditujukan kapada para alim ulama dan auliya yang telah meninggal. Terkadang pembacaan Al-Fatihah ini memakan waktu yang lama, mengingat nama-nama yang disebutkan sangatlah banyak. “Para auliya yang telah meninggal, bila disebutkan nama mereka, maka mereka akan datang kepada kita,” Habib Muhammad menegaskan. Pembacaan Al-Fatihah itu juga merupakan bentuk tawasul yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW serta para sahabat dan sama sekali bukan perkara bid’ah…..! CN ***

Bagikan