Sebaik-baik Cinta

Bagikan

Siang itu, seorang pemuda berparas tampan berjalan memasuki perkampungan kaum Nukha’ Di kota Kufah. Dia termasuk salah seorang Ahli Zuhud yang sangat rajin beribadah. Saat singgah di kampung tersebut tanpa sengaja matanya melihat seorang wanita muda berparas elok nan rupawan. Ia pun tertarik dengannya dan akalnya melayang-layang karenanya. Rupanya, hal yang sama juga dialami wanita tersebut. Pemuda ini kemudian mengirim utusan untuk melamar wanita cantik tersebut, namun sayang sekali ayah wanita itu menolak karena dia telah dijodohkan dengan sepupunya. Kondisi ini membuat keduanya begitu tersiksa.

Lalu wanita itu mengirim utusan kepada pemuda ahli ibadah tersebut dengan sebuah pesan, “Telah sampai ke telingaku perihal kecintaanmu yang teramat dalam kepadaku dan cobaan ini begitu berat bagiku. Jika berkenan, aku akan mengunjungimu atau aku permudah jalan bagimu untuk datang ke rumahku”’

Setelah mendengar penuturan utusan tersebut sang pemuda menjawab, “Dua-duanya tidak akan aku lakukan”. Dia kemudian membacakan firman Allah, ‘Sesungguhnya aku takut siksaan pada hari yang agung jika berbuat maksiat kepada Rabbku.’ (QS az-Zumar:13) Aku takut api yang lidahnya tidak pernah padam dan jilatannya yang tak pernah diam.

Tatkala utusan itu kembali kepada wanita tersebut dan menyampaikan apa yang telah dikatakan pemuda tadi, berkatalah wanita cantik itu, ”Sekalipun yang aku lihat darinya demikian, namun rupanya dia juga seorang yang amat zuhud, takut kepada Allah! Demi Allah, tidak ada seorang pun yang merasa dirinya lebih berhak dari orang lain untuk takut kepada Allah. Sesungguhnya para hamba dalam hal ini adalah sama.”

Kemudian wanita tersebut meninggalkan gemerlap dunia, membuang semua hal yang terkait dengannya, mengenakan pakaian sederhana yang terbuat dari bulu dan berkonsentrasi dalam ibadah. Sekalipun demikian, dia masih hanyut dalam kerinduan dan menjadi kurus kering karena cintanya terhadap pemuda itu hingga akhirnya dia meninggal dunia dengan memendam rasa rindu yang teramat dalam.

Setelah wanita itu wafat, sang pemuda tampan itu sering berziarah ke kuburnya. Suatu malam, dia melihat wanita itu dalam mimpi dengan penampilan yang amat bagus, dan berkata kepadanya, “Bagaimana kabarmu dan apa yang engkau temukan setelahku.?” Si wanita menjawab, “Sebaik-baik cinta, adalah cintamu wahai kasih. Cinta yang menggiring kepada kebaikan dan berbuat baik.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Apa yang akan kamu tuju?” Dia menjawab,
”Kenikmatan dan hidup yang tiada habisnya di surga nan kekal, milik yang tak pernah punah”

Pemuda itu berkata lagi kepadanya, ”Ingat-ingatlah aku di sana karena aku tidak pernah melupakanmu.”

“Demi Allah, akupun demikian. Aku telah memohon kepada Rabbku, Mawla-ku agar Dia menolongku atas hal tersebut.” Jawab si wanita.

Lantas pemuda itu bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu.?”

“Engkau akan mendatangi kami dalam waktu dekat.” Ujarnya.

Rupanya benar, pemuda itu tidak hidup lama lagi setelah mimpi itu, hanya tujuh malam. Dan, setelah itu, dia pun menyusul, berpulang ke rahmatullah. Semoga Allah merahmati keduanya.

Masun Said Alwy
Sumber: al-Maw’id Jannat an-Na’im karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy

Bagikan