Tak Surut Digertak Penguasa

Bagikan

Khalifah Harun Ar-Rasyid bertandang ke rumah Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, yang kita kenal dengan sebutan Imam Syafi’i. Kedatangan Khalifah mengandung maksud tertentu. Yaitu untuk merayu sang imam supaya mengizinkannya mengawini selir atau budak perempuan almarhum Musa Al-Hadi, saudaranya.

Sewaktu hidupnya dulu Musa telah meminta kepada Harun supaya bersumpah tidak menikahi budak tersebut sepeninggalnya nanti. Mendekati perempuan itu saja, jangan. Kala itu, Harun tidak berkeberatan. Maka bersumpahlah dia. Kata-kata sumpah itu tidak hanya dia ucapkan satu kali, tapi berkali-kali. Di antaranya, dia bersumpah, jika dia mendekati itu perempuan, dia akan berjalan kaki dari Baghdad ke Masjidil Haram di Mekah, dengan bertelanjang kaki.

Kini, setelah adiknya wafat, dia berubah pikiran. Dia tak kuasa menahan gejolak nafsunya untuk menikahi perempuan tersebut, dan dia berharap bahwa Imam Syafi’i memberikan keringanan alias rukhshah kepada dirinya. Hitung-hitung, Imam Syafi’i kan termasuk bawahannya. Jadi, pasti imam ahli fiqih itu bakal mencarikan dalil yang membolehkan dia melanggar serentetan sumpah tadi.

Tetapi imam kita itu bukan tipe ulama yang mudah ditundukkan dan dikendalikan. Dia bukan tipe ulama penjilat ataupun konformis. Dia adalah ulama yang berprinsip. Dia menolak permintaan khalifahnya karena dia tidak melihat ada dalil yang membolehkan.

Bisa ditebak, apa buntut penolakan ini. Khalifah marah. Dia benar-benar marah dan mengancam, lalu pergi.

Imam kita agak keder juga. Ke dalam hatinya menyelusup riak-riak rasa takut. Karena itu dia melakukan salat, salat dan salat. Dia terus melakukan salat karena salat adalah senjata atau cara yang ampuh untuk memohon pertolongan dari Allah di kala ditimpa masalah. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Mintalah tolong dengan sabar dan salat. Sungguh salat itu berat sekali, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.“ (Al-Baqarah: 45)

Dalam suatu hadis diterangkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلَىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلىَّ

 

“Rasulullah s.a.w. bila ditimpa suatu masalah, beliau salat.”

Begitulah, Imam Syafi’i terus menerus salat. Sampai dia mengantuk, lalu tertidur di tempat salatnya. Dalam tidurnya dia bermimpi seolah dia berdiri di hadapan Allah. Lalu dia mendengar suara, “He Muhammad (bin Idris), tetaplah berpegang pada syariat Muhammad. Jangan sekali-kali engkau melenceng darinya sehingga kamu akan menjadi sesat dan menyesatkan. Bukankah kamu imam bagi orang banyak? Tak usah takut padanya. Bacalah:

 

“Sungguh Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.“ (Yasin: 8)

 

Imam Syafi’i terbangun, sementara lisannya masih melafalkan ayat tersebut. Dan dia terus membacanya.

Ketika waktu subuh tiba, dia berdiri untuk salat, seperti pada hari-hari sebelumnya. Usai salat dan ketika sedang membaca wirid, dia merasa penat lalu tertidur lagi. Dalam tidurnya dia mendengar suara, “Harun Ar-Rasyid akan berpaling darimu, jadi jangan takut selagi engkau hidup. Kalau kamu berjalan ke tempatnya, bacalah du’aul khaif (doa orang takut) dengan suara lirih, dan kamu akan lihat, dia pasti baik padamu.”

Lantas dia terbangun. Dia mengucapkan doa sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُو ِإلَيْكَ ضُعْفَ قُوَّتِي وَقِلَّةَ حِيلَتِي وَهَوَانيِ عَلىَ النَّاسِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبيِّ إِلىَ مَنْ تَكِلْنِي أَإِلىَ عَدُوٍِ بَعِيدٍ يَهْجُمُنيِ أَمْ إِلَى صَدِيقٍ قَرِيبٍ مَلَكْتَهُ أَمْرِي اِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ عَليَ غَضَبْ فَماَ أُبَالِي وَلَكِنْ عَافِيَتُكَ أَوْسَعُ لِي َأعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ مِنْ أَنْ يَنْزِلَ بِي غَضَبُكَ أَوْيَحِلُّ عَلَيَّ سَخَطُكَ لَكَ اْلَحْمدُ حَتىَّ تَرْضَى وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

“ Ya Allah, aku mengadu kepadamu tentang lemahnya kekuatanku, tentang sedikitnya siasatku dan tentang kehinaanku di hadapan orang-orang, wahai Dzat yang terkasih di antara para pengasih. Engkau Tuhannya orang-orang lemah tertindas, dan Engkau Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Apakah kepada musuh jauh yang hendak menyerangku ataukah kepada teman dekat yang telah Engkau pasrahi urusanku? Apapun yang terjadi, jikalau tiada murka darimu pada diriku, aku tiada peduli. Tetapi tentu perlindungan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung pada cahaya-Mu, yang dengan cahaya itu Engkau sibak kegelapan-kegelapan menjadi terang, dan berkat cahaya-Mu urusan dunia dan akhirat menjadi baik, aku berlindung dari kemungkinan turunnya murka-Mu padaku, atau dari kemungkinan aku terkena benci-Mu. Segala puji bagi-Mu sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan tidak kekuatan kecuali dengan-Mu.”

Belum selesai dia membaca doa ini, terdengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Imam Syafi’i membuka pintu. Ternyata, Ar-Rabi’, perdana menteri Khalifah Harun. “Tuan Guru, Khalifah mengundang Anda untuk datang ke istana,” katanya.

Imam Syafi’i mengiyakan, dan keduanya berjalan beriringan menuju istana. Ketika Khalifah melihat Imam Syafi’i datang ke tempatnya, dia langsung berdiri menyongsongnya dengan hangat. Wajah berseri, senyum mengembang. “Ni’mal muslim anta, ni’mal imam mitsluka, la ta’khudzuhu fillah lawmatu laim,” katanya. “Engkaulah sebagus-bagus muslim, engkaulah sebagus-bagus imam, yang untuk urusan agama Allah tidak mau surut sejengkal pun oleh celaan dan gertakan orang. Ya faqih (wahai mujtahid), tadi malam aku dicela gara-gara kamu, gara-gara aku telah mengancammu. Pergilah engkau sekarang sebagai orang yang terbimbing di jalan benar. Engkau sungguh orang mulia. Engkau sungguh orang yang senantiasa dilindungi.”

Khalifah lalu memerintahkan pembantunya supaya menghadiahi sang imam 10.000 dinar. Tetapi imam kita tidak berkenan menerimanya. Uang itu dia taruh di hadapannya, lalu dia pergi. Hamid Ahmad

Bagikan