Tauhid pondasi keluarga

Bagikan

gambarartikel31_a“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS 2 : 269).

Mukadimah Semua maujud [eksistensi] berasal dari satu sumber dan bergerak secara pasti serta teratur ke arah sumber tersebut. Setiap kejadian tidak terjadi karena kebetulan. Namun merupakan suatu rencana penuh hikmah dan kebijaksanaan. Di antara maujud, datang dan pergi merupakan suatu paksaan yang tak dapat dielakkan. Sebagian yang lain diberi kebebasan untuk menentukan nasib mereka sendiri. Sebagian yang lain menemukan asalnya dan sebagian yang lain melupakan dirinya. Manusia adalah bagian dari alam yang diberikan kepadanya ikhtiar untuk menentukan nasibnya sendiri.

Selama kehidupan manusia mengejar keberuntungan. Sebagian mereka berangkat dari anggapan akal yang terbelenggu dunia dan sebagian lainnya dari anggapan akal yang merdeka. Maka keberuntungan untuk sebagian mereka selalu datang dan pergi tanpa kepastian. Merupakan sesuatu yang abadi bagi sebagian yang lain sehingga usaha bagi mereka hanya sebagai pelengkap dan penyempurna eksistensi mereka sendiri.

Hakikat keberuntungan tergantung kepada pengetahuan [makrifat] akan sumber segala maujud yakni makrifat kepada Allah Swt, sifat-sifat-Nya, penciptaan-Nya atas malak dan malakut. Makrifat inilah yang menumbuhkan rasa optimis, semangat juang yang tinggi, keinginan berkorban, menghapus kekecewaan, dan keputusasaan. Makrifat kepada Allah juga akan menyebabkan terbukanya semua pintu hikmah dan mengantarkan manusia kepada kemuliaan iman.

Allah Swt berfirman : “Rasul telah berfirman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan) : “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya’, dan mereka mengatakan : ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa ) : ‘Ampunilah kami, wahai Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.’” (QS 2 : 285). Lawan daripada hikmah-makrifat kepada tauhid Allah Swt adalah kejahilan dan kekufuran. Efek dari kejahilan dan kekufuran akan menjadikan manusia menuju kehancuran dan kebinasaan, menurunkan derajat manusia sehingga lebih rendah dari segala jenis hewan dan menjadikan mereka tidak tetap dalam menjalani kehidupan. Allah Swt berfirman : “Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata : ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al-An’am, 6 : 124-125). Allah Swt juga telah berfirman : Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli dan tidak mengerti apapun.””(QS Al-Anfal : 22).

Dengan bahasa Rasul Saww dijelaskan sebagai kehidupan yang dipenuhi kegelisahan dan kerja keras tanpa akhir. Rasulullah Saww bersabda : “Siapapun yang telah menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka dia tidak lagi memiliki hubungan dengan Allah Swt. Dan Allah menjadikan baginya empat keadaan : kegelisahan yang tak pernah putus, kefakiran tanpa kecukupan, angan-angan tanpa batas, kerja keras tanpa akhir.” Demikianlah manusia dalam kehidupannya tidak mungkin membebaskan diri mereka dari keterikatan kepada hukum yang telah ditentukan Allah Swt. Dengan kembali kepada Allah sebagai sumber wujud, manusia akan menjadi mantap dalam mengarungi kehidupan, sedangkan meninggalkan-Nya akan menjadikan manusia hancur tergilas oleh sebab dan akibat. Amirul Mukminin ‘Ali as dengan menukil kalimat Plato bertanya kepada para sahabatnya. “Apabila alam semesta adalah busur dan kejadian alam sebagai anak panah dan kalian adalah sasarannya, sementara Allah yang memanah, kemanakah kalian akan lari ?” Para sahabat terdiam tak mampu menjawab, maka Amirul Mukminin ‘Ali as mengatakan, “Larilah kalian kepada Allah Swt.” Logika Bertauhid dan Berlogika Tauhid Problem tauhid merupakan masalah yang sampai hari ini masih selalu menjadi pembahasan par ahli makrifat. Mulai dari masalah definisi lafzhi atau hakiki sampai kepada makna yang lebih dalam dan rumit, senantiasa menjadi topik pembahasan yang menarik.

Setiap pembahasan seputar masalah tauhid selalu didukung argumentasi akal, yakni kesimpulan selalu didukung oleh dasar-dasar akal yang bersifat pasti. Perbedaan dan pertentangan dapat saja terjadi, tetapi bukan disebabkan oleh akal yang salah, melaikan disebabkan adanya pendahuluan (premis) yang salah pada akal. Oleh karenanya, setiap pencari tauhid harus selalu berhati-hati dalam menjaga perhatian akalnya sehingga tidak akan keliru dalam menarik kesimpulan. Nilai tauhid juga telah dijadkan sebagai satu-satunya ukuran benar dan tidaknya kesimpulan seseorang tentang masalah hidup dan yang berhubungan dengan kehidupan yakni apakah pemikiran yang telah menghasilkan kesimpulan tentang hidup itu memiliki muatan tauhid ataukah tidak. Oleh karenanya, dalam makna tauhid terdapat dua nilai yang selalu dibahas di dalamnya.

Yang pertama adalah pembahasan yang dibicarakan di dalamnya kebenaran suatu logika tentang tauhid. Sedangkan yang kedua adalah pembahasan yang dibicarakan di dalamnya tentang kandungan tauhid dalam suatu pemikiran. Logika bertauhid sangat menentukan sikap hidup seseorang dan sebaliknya pemahaman seseorang terhadap tauhid dapat dinilai dari sikap hidupnya. Imam Ja’far as bersabda, “Ilmu selalu berhubungan dengan amal. Siapa yang berilmu maka ia beramal. Dan siapa yang beramal (dengan benar) maka ia berilmu.” Allah Swt berfirman : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (maka menjadi tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ” (QS Ar-Rum : 30). Secara umum kebutuhan manusia terbagi dua : a. yang bersifat alamiah b. karena kebiasaan atau budaya Kebutuhan alamiah adalah kebutuhan yang bersifat abadi dan tidak dapat dipisahkan dari manusia. Kebutuhan yang merupakan bagian dari hidup manusia.

Dengan ibarat lain, kebutuhan yang merupakan fitrah manusia seperti kebutuhan beragama dan berkeluarga. Sedangkan kebutuhan karena kebiasaan dan budaya adalah kebutuhan dari luar diri manusia yang kemudian menyatu dengan diri manusia. Kebutuhan ini tidak bersifat abadi dan dapat dipisahkan dari diri manusia seperti kebutuhan manusia terhadap rokok, kopi, atau pesiar dan pesta. Manusia tidak harus hidup dengan kebutuhan-kebutuhan ini. Fitrah manusia menuntut pemenuhan kepada setiap kebutuhan mereka. Tuntutan fitrah ibarat tuntutan kepada air bagi orang yang kehausan. Apabila ditemukan adanya manusia yang tidak peka terhadap kebutuhan fitrahnya, bukan berarti disebabkan tidak adanya fitrah pada dirinya. Tetapi disebabkan tidak sehatnya fitrah pada diri orang tersebut. Seperti orang yang sakit, meskipun dua hari tidak makan, ia tetap tidak bersemangat untuk makan. Bukan disebabkan ia tidak butuh makan, tetapi disebabkan tidak pekanya ia terhadap kebutuhan tersebut. Dalam hati kecilnya manusia memiliki kebutuhan untuk berkeluarga dan memiliki keturunan. Bahkan manusia merasa kehidupannya berakhir apabila tidak memiliki keturunan yang melanjutkan nasabnya. Manusia tidak akan tentram dan bahagia, apabila tidak mengetahui asal keturunannya. Semua itu disebabkan fitrahnya yang menuntut untuk berkeluarga, bahagia dan hidup tentram. Karena kebutuhan fitrah bersifat abadi, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu berusaha mendapatkan keberuntungan dalam hidup yaitu dengan memenuhi semua kebutuhan fitrahnya.

Hanya saja disebabkan adanya perbedaan sehat dan tidaknya fitrah, menjadikan adanya perbedaan pemahaman tentang arti keberuntungan. Apakah Arti Keberuntungan ? Terdapat beberapa pandangan arti keberuntungan dan tentang bagaimana mendapatkannya di antaranya : a). Nilai Jiwa Pendapat dari filsuf kuno yang mengatakan bahwa sumber keberuntungan adalah kesempurnaan jiwa yaitu apabila manusia memiliki empat sifat kesempurnaan seperti keberanian, kebijaksanaan, harga diri dan keadilan, mereka adalah orang yang beruntung. Keberuntungan itu sendiri tidak berhubungan dengan masalah fisik. Artinya, meskipun secxara fisik mereka menderita, cacat misalnya, tetapi selama empat sifat kesempurnaan itu mereka miliki dan tidak menjadi hilang karena penderitaan tersebut, maka mereka adalah orang beruntung. Kemudian dari mereka ada yang beranggapan bahwa karena fisik dan jiwa adalah hal yang bertentangan, maka setiap penderitaan bagi fisik adalah merupakan suatu kesempurnaan bagi jiwa. Oleh karenanya, untuk mencapai kesempurnaan jiwa manusia harus menyiksa fisik mereka. Semakin keras siksaan bagi fisik menjadikan semakin sempurnanya jiwa. Maka dilakukanlah praktik-praktik penyiksaan seperti tidur di atas paku, atau dengan mengaitkan tubuh dengan besi dan kemudian digantung, dan sebagainya. b). Nilai Fisik Pendapat yang kedua ini seratus persen bertentangan dengan pendapat yang pertama. Pendapat ini banyak diyakini oleh para filsuf abad modern. Mereka berpendapat bahwa keberuntungan hanyalah bersumber dari nilai fisik. Moral tidak lagi memiliki tempat yang istimewa bagi mereka. Bahkan dapat menjadi penghalang keberuntungan bagi mereka. Dari mereka ada yang lebih menekankan kepada masalah pemenuhan kecenderungan hewani yakni manusia dikatakan beruntung apabila ia memiliki kehidupan dengan ekonomi yang baik, atau karena dapat memenuhi kelezatan fisik yang ia inginkan. c) Nilai Realitas Pendapat ketiga adalah pendapat dalam yang berdiri di antara dua pendapat sebelumnya yakni bahwa manusia dikatakan beruntung apabila mereka memiliki keimanan kepada Allah Swt. seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr : Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman. Tetapi mereka tidak menghilangkan nilai fisik yakni dalam kehidupan, kesempurnaan fisik juga harus dicari oleh manusia. Bahkan manusia yang mengabaikan masalah fisik, bagi mereka termasuk orang-orang celaka. Rasulullah Saww bersabda : “Keberuntungan seseorang ada pada rumah yang luas, kendaraan yang baik, istri yang saleh, dan anak yang saleh.” Amirul Mukminin ‘Ali as bersabda : “Celakalah orang yang menemukan air dan tanah, kemudian ia memilih hidup miskin.” Hikmah Perbedaan Setiap maujud adalah sama dilihat bahwa semuanya merupakan ciptaan Allah Swt. Oleh karena itulah Allah berfirman : “Kalian tidak akan menemukan adanya perbedaan dalam ciptaan Allah Swt. Semua itu disebabkan berserikatnya maujud dalam menerima kemurahan dan rahmat Allah Swt dan sepakatnya fitrah mereka pada satu penghambaan. Namun maujud berbeda dilihat dari spesies yang telah membatasi masing-masing mereka setelah sebelumnya mersatu dalam makna wujud. Maka, perbedaan esensi terjadi disebabkan perbedaan tingkat kedekatan mereka kepada sumber wujud. Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki banyak sekali perbedaan. Allah Swt berfirman : “Dan Aku angkat derajat sebagian dari kalian lebih tinggi dari sebagian yang lain. Akan tetapi, adanya perbedaan di antara manusia semata-mata disebabkan oleh hikmah dan kebijaksanaan Allah Swt yaitu pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri sehingga apabila ada orang yang berusaha hidup sendiri, ia akan binasa pada waktu yang amat singkat. Penyebabnya adalah kebutuhan yang paling utama bagi manusia dalam hidupnya seperti makanan, tidak dia dapatkan dalam keadaan yang telah siap untuk dipakai. Keduanya harus lebih dahulu disiapkan yang niscaya diperlukan alat serta keahlian.

Berbeda dengan banyak jenis hewan yang lain. Oleh karena itu manusia harus hidup bermasyarakat, sehingga dapat bekerja sama dengan membagi keahlian mereka. Maka terbagilah manusia dengan keahlian dan karya masing-masing di dalam suatu masyarakat. Allah berfirman : Kamilah yang membagikan di antara mereka rezeki yang menghidupi mereka. Maka terbagi-bagilah pulalah keinginan, bakat, dan kekuatan mereka untuk memudahkan suatu kerja sama dalam hidup mereka. Firman-Nya yang lain : Katakanlah : ‘Tiap –tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Sedangkan adanya perbedaan kecenderungan-kecenderungan serta watak manusia dalam karya-karya mereka disebabkan tujuh faktor penyebab : 1. Perbedaan thinah (asal penciptaan) Allah Swt berfirman : “Negeri yang baik akan menumbuhkan tumbuhan yang subur dengan izin Tuhannya. Dan yang buruk tidak akan menumbuhkan kecuali kering dan dan merana.” Allah Swt juga berfirman : “Dialah yang membentuk kalian di dalam rahim sesuai dengan dikehendaki-Nya.” 2. Perbedaan baik dan buruknya keadaan orang tua Hal itu disebabkan orang tua mewariskan sifat baik dan buruk kepada anak-anak mereka sebagaimana juga mewariskan kemiripan pada fisik anak-anak mereka. Oleh karena itulah, Nabi Allah Khidr as, saat menjelaskan hikmah tentang mengapa dia membangun dinding yang akan roboh, adalah karena untuk menjaga harta milik dua anak yatim yang kedua orang tuanya sale 3. Perbedaan pada nuthfa Baik dan buruknya nuthfah akan menentukan nasib anak-anaknya. Rasulullah Saww bersabda : “Orang yang menikah, ibarat petani yang menyebarkan bibit. Maka hendaklah dia memperhatikan ke mana bibit itu akan diletakkan.” 4. Perrbedaan susuan dan makanan Disebutkan di dalam hadis bahwa susuan mengubah tabiat 5. Perbedaan dalam pendidikan Rasulullah Saww bersabda : “Perintahkan mereka untuk shalat pada umur tujuh tahun dan cambuklah pada umur sepuluh tahun.” 6. Perbedaan dalam pendidikan 7. Perbedaan dalam berusaha Akhlak Ilmu akhlak adalah ilmu yang dibahas di dalamnya tentang potensi manusia yang berhubungan dengan kekuatan nabati, hewani, dan manusiawi. Di dalamnya juga dibahas segala hal yang membedakan antara sikap hina dan terpuji, sehingga manusia dapat menentukan bagaimana ia harus bersikap semestinya di tengah masyarakat. Manusia dalam setiap tindakannya selalu dilatarbelakangi tiga hal : Pertama, kebutuhan-kebutuhan mereka seperti makan, minum, tidur, dsb; atau pencegahan terhadap sesuatu seperti mempertahankan diri, harta, dan tanah; atau logika dan pikir mereka. Oleh karenanya, dapat diketahui bahwa ada tiga kekuatan kesempurnaan pada diri manusia yang harus selalu dijaga keseimbangannya, yakni kekuatan syahwah (nafsu), ghadhab (amarah), dan akal. Kekuatan amarah yang yang terjaga keseimbangannya, menghasilkan keberanian (saja’ah). Dan kekuatan nafsu menghasilkan harga diri (‘iffah). Dan kekuatan akan menghasilkan hikmah. Dan ada lagi satu kekuatan yang lahir dari tiga kekuatan sebelumnya, yaitu keadilan. Empat kesempurnaan di atas merupakan sumber dari kesempurnaan akhlak manusia. Maka setiap manusia yang dapat menjaga keseimbangan nafsunya, ia akan hidup dengan kemuliaan. Dan perlakuan tafrid di dalamnya melahirkan sifat pengecut, dan perlakuan ifrod melahirkan kebrutalan. Dan keseimbangan akal melahirkan hikmah. Perlakuan tafrid di dalamnya melahirkan kebodohan dan perlakuan ifrod melahirkan kelicikan. Dan menjaga keseimbangan tiga kesempurnaan di atas melahirkan keadilan. Perlakuan tafrid akan melahirkan kemandhluman dan perlakuan ifrod akan melahirkan kedholiman. Anak di Antara Orang Tua dan Masyarakat Bersabda Rasul Saww: “Orang yang beruntung telah beruntung sejak di perut ibunya, dan yang celaka telah celaka telah sejak di perut ibunya.” Anak adalah buah hati orang tua. Maka sudah merupakan keharusan bagi setiap orang tua untuk membahagiakan anak-anak mereka.

Tentu saja untuk mewujudkannya orang tua harus benar-benar memperhatikan dan menyiapkan semua sarana yang dapat mengantarkan anak mereka kepada kebahagiaan. Dalam hal ini sebagaimana telah dijelaskan di atas, Islam melihat persiapan-persiapan itu harus dimulai oleh setiap orang tua sejak mereka akan melakukan pernikahan, saat akan melakukan persetubuhan, saat anak dalam kandungan, saat lahir hingga tumbuh dewasa. Setiap orang tua harus memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi mereka dalam membentuk kepribadian anak-anak mereka. Karena setiap anak akan menilai tindakan orang tuanya sebagai suatu kebaikan dan kemudian akan mencontohnya. Juga, watak anak-anak sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua mereka. Dalam memberikan kasih sayang dan penjagaan, setiap orang tua harus tetap mempertahankan nilai mereka sebagai manusia. Yakni kasih sayang dan penjagaan orang tua kepada anak mereka hendaknya tidak bersifat sementara dan terbatas, sebagaimana kasih sayang dan penjagaan hewan kepada anak-anak mereka. Hendaknya pendidikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah pendidikan yang memberikan pengaruh baik bagi anak. Bukan pendidikan sebatas berita pengetahuan bagi anak. Hendaknya orang tua menciptakan suatu kondisi yang benar-benar memberikan ketentraman dan keamanan kepada anak-anak mereka. Masyarakat memiliki pengaruh sangat besar terhadap perkembangan seorang anak. Maka setiap orang tua harus memilihkan lingkungan yang baik bagi anak-anak mereka. Atau membentuk pribadi anak sehingga dapat memilih lingkungan yang baik bagi mereka.[Ust. Abdullah Assegaf ]

Bagikan